Warisan Mutiara Berkilau Pusaka
Awalnya aku tak mengerti kenapa sih para orang tua bersikeras mendesak anak-anaknya untuk mengenyam pendidikan? Tertutama sekali bagi yang tinggal di pinggiran kota yang dominan lebih disibukkan dengan kehidupan desa yang seringkali hanya berkutat pada kesahajaan keluarga. Contoh rilnya “Aku” yang hanya bengong mengikuti perintah ayah sang penyabar yang bikin diri ini segan padanya.
“Pendidikan atau Ilmu itu lebih utama daripada Harta!”. Memang sih misalkan seorang anak lulusan SMA atau sejajarnya disediakan oleh orang tua uang sebesar Rp. 5 juta, pasti orang tua akan mengajukan agar uang itu dipergunakan untuk biaya Kuliah saja..yaa daripada untuk modal kerja yang barangkali anak sendiri pun belum tentu dapat mengelola uang dengan efesian, maka lebih baik untuk persediaan kuliah saja. Istilahnya “tidak mengapa uang yang ada buat modal kecerdasan dulu, toh insya Allah nanti ada penggantinya ketika kesuksesan tercapai!!”.
Bagi orang tua anak adalah segala-galanya, apalagi jika orang tua mampu secara maksimal mengasuhnya hingga tercukupi hak kecerdasan. “nak, kamu harus tetap melanjutkan jenjang sekolahmu!!,” ucapan itu yang terus terniang walau diri ini sadar akan finansial orang tua yang kurang memadahi. boro-boro untuk membiayai kuliahku nanti, untuk mencukupi keperluan sehari-hari saja sudah bersyukur. “ya Allah semoga engkau berikan kelapangan rizki kepada keluargaku,” doaku dalam hati.
Aku sebagai anak tentu mendambakan kecerdasan itu bisa kugapai. Namun, bagaimana caranya yah?, apa aku harus memaksa orang tua untuk menjual sepetak sawah yang selama ini sebagai penghasilan utama? Apa orang tuaku harus menyewakan sekotak ruangan? Tapi, siapa yang mau menyewanya!! “aku bingung tak bernada padahal teman-temanku sudah berguyur mendaftar ke berbagai universitas favorit”.
Aku rasa, belajar dan terus belajar itulah tugas utamaku. Hingga suatu ketika seorang tetangga yang kuliah di UMM [Universitas Muhammadiyah Malang] pulang kampung. Pernah kuberbincang dengannya, tampak kulihat wajah binar berperadaban. Dan di waktu lain sengaja aku datang kepadanya dan berbincang-bincang lebih jauh tentang dunia perkuliahan “walau sebenarnya aku belum konek dengan dunia baru itu”. Satu nasihat yang kupetik dari obrolannya “ sesunggunya jika kita giat menggali ilmu akhirat, maka yakinlah niscaya ilmu dunia akan mengalir bersamanya”.
Subhanalah, motifasi baru buatku yang sempat menggemparkan kemalasan diri ini. Namun dari pada itu kenapa benak ini terus dikelabuhi oleh pikiran-pikiran liar yang menganggap diri kurang mampu, keinginginan jadi melemah sesaat teringat kondisi orang tua yang pas-pas tok itu..ahh, sepertinya itu hanya alasan belaka “ Aku yakin jika ada kemauan pasti jalan pun akan terbuka”.
Mulai detik itu diri ini berniat untuk melanjutkan ke jenjang Kuliah “kan aku kepingin juga menghirup udara perkuliah itu seperti gimana…hehe”. “Ayah, Ibu, doakan anakmu mudah-mudahan jalan segera terbuka,” ajakku pada orang tua setelah niat kuucapkan dihadapan mereka berdua.
Siapa sih yang tahu ketetapan Ilahi?, aku rasa tidak ada yang lebih tahu melainkan Tuhan yang maha tahu, Tuhan menghadirkan yang terbaik buat hambanya dan bukan yang hamba inginkan. Diri ini hanya bisa berusaha dan berdoa sedang hasil akhir itu berada digenggaman kuasaNya.
Banyak dari kalangan keluarga yang berfinansial melimpah, kaya raya, rumah megah, mobil mewah, namun kenapa kok enggan menyontikkan dana membiayai untuk Kuliah anaknya?? sedang keluarga lain yang berfinansial di bawah standar, yang hanya cukup untuk persediaan sehari kok malah menggebu-gebu mendorong anaknya untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi..”aneh tapi nyata, apa itu akibat sikap Hegemoni finansial yang selalu memanjakan kecerdasan??”.
“Coba misalkan harta si kaya itu dimiliki oleh keluargaku, pasti jalan pun akan mulus,” lamunku dalam hati.. Asfaghfirullah, aku telah mengandai yang jauh dari kejelasan. Benar apa kata penyair “sungguh, ilmu tidak didapat hanya dengan berleha-leha, namun ia didapat dengan kesungguhan”. Aku tidak tahu bagaimana memadukan antara keinginan dengan ketidakmampuan, apa bisa dipadukan?. Sekali lagi kukatakan “kemiskinan, kekurangan Finansial tidak selamanya menjadi alasan untuk menggapai kesuksesan!”.
Memang terkadang apa yang kita inginkan belum tentu terwujud sepanuhnya. Namun dari pada itu kita tetap berkewajiban untuk berikhtiar dan berikhtiar. Janji Tuhan kan seperti itu “setiap insan akan menuai hasil sebatas apa yang ia lakukan”. Sepadan, sejajar mungkin itu maksudnya.
Belajar dari kesungguhan orang tua, sesungguhnya hati ini tegar untuk tetap maju, maju dan maju!!! Apa yang dapat kulakukan untuk menunjang Kuliah maka akan kulakukan..
Jika dibandingkan, sesungguhnya cita-cita orang tua jauh lebuh tinggi daripada cita-cita seorang anak. Bagaimana tidak, sejak anaknya belia, orang tua telah menancapkan cita-cita “Ayah harap kau nanti menjadi anak yang berguna mengabdi bangsa,” bukankah itu cita-cita mulia??.nah posisi anak sebenarnya hanya sebagai mesin penggerak yang menghantarkan kepada cita-cita orang tua tersebut. Berbekal semangat menggebu dan dorongan kuat dari orang tua maka cita-cita mulia itu akan tersampaikan.
Akhirnya senyum mengambang bersama lantunan motifasi yang selalu didengungkan oleh orang tua “wahai anakku, Ayah tidak mewariskan secuil harta kepadamu. Namun Ilmu yang kau dapatkan dan kemudian kau kembangkan itulah warisan yang sebenarnya”..tetap tegar dan kukatakan sekali lagi “Finansial tak selamanya menjadi kendala demi tercapainya kesuksesan!!”.
SocialVibe